Sukro

 Tau Sukro kan? Kacang Sukro itu lho. Dulu waktu di Jogja, saya sering beli itu di warung. 500 perak dan isinya se-abrek, banyak cuy sampe enek makan itu.

 13 tahun yang lalu di jogja, saya nemu kucing di deket rumah. Masih anakan, dan saya lupa warna apa. Niat awal mau saya pelihara di rumah, tapi karena Ibu saya takut kucing jadi niat itu saya urungkan. Akhirnya sahabat saya yang melihara kucing itu. Nama sahabat saya Hasan, setahun lebih tua dari saya dan dia diizinkan oleh kedua orangtuanya untuk memelihara kucing itu di rumah.

 Saya sangat iri dan merasa sedih karena tidak bisa memelihara kucing itu. Hasan tau itu, jadi setiap pagi dia mengajak saya untuk bermain sama kucing itu. Awal-awal memelihara kucing itu, kami berdua bingung pas mau ngasih makan. Setelah beberapa ide kami cetuskan, akhirnya Hasan menemukan ide briliannya.

“Nyubo di kek’i Sukro ae, piye?” Kata-kata itu samar-samar masih ada di memori saya. Dan kami pun membeli Sukro di warung. Dengan hati berdebar dan wajah cengengesan kami memberi kucing itu Sukro. “Mosok gelem kucinge?” Saya bertanya pada Hasan, dan Hasan dengan yakin tetap memberi kucing itu Sukro.

 Hasan mengeluarkan sebiji Sukro dan mencoba menyuapkannya ke si kucing. Kami berdua kagum, ternyata kucing itu mau. Kami berdua bahagia sekali, kesemsem. Sejak saat itu, saya menjadi penikmat Sukro hahaha. Tidak pernah bosan untuk makan Sukro, karena setiap saya makan itu, saya teringat akan Jogja, Hasan, dan si Kucing. We laugh, we live, and then I left em. At last, “We” couldn’t be “We” anymore. Now, it’s me and them.

Comments

Popular posts from this blog

Pengukir Kebahagiaan

Pertama Kali Mudik